Rabu, 02 November 2011

Cara Perawatan Bayi Prematur di Rumah


Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut sebagai prematur. Bayi tersebut biasanya memiliki berat lahir kurang dari 2500 gram. Merawat bayi prematur tidak sama denganbayi cukup bulan, karena terdapat berbagai hal yang harus diperhatikan. Di bawah ini dibahas cara-cara perawatan bayi prematur semenjak pulang dari rumah sakit.

Pemulangan dari rumah sakit

Berbagai aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum bayi dipulangkan dari rumah sakit meliputi keterlibatan orang tua dalam perawatan bayi, rencana untuk kebutuhan khusus seperti oksigen dan pengawasan henti napas, edukasi ketrampilan khusus tentang resusitasi jantung paru. Selain itu, terdapat beberapa kriteria sosial untuk pemulangan bayi, mencakup (1) konfirmasi bahwa orang tua dapat menyediakan kebutuhan dasar bayi, (2) jaminan orang tua mengetahui semua kebutuhan bayi dan cara untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul setelah pemulangan, dan (3) rencana melanjutkan perawatan kesehatan dan dukungan untuk orang tua. Stres yang dialami orang tua ketika bayi mereka dirawat dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, sehingga edukasi ke orang tua seringkali perlu diulang kembali setelah bayi dipulangkan. Selain itu, orang tua harus memperoleh bantuan yang cukup di rumah untuk mendukung mereka dalam merawat bayi.

Sebagian besar NICU (Neonatal Intensive Care Unit) mempunyai syarat-syarat tertentu untuk pemulangan. Panduan medis untuk pemulangan adalah sebagai berikut : (1) suhu tubuh dapat dipertahankan bila bayi berada di ruangan, biasanya pada usia 34 minggu atau berat 2000 gram; (2) bayi dapat makan melalui mulut cukup untuk mendapatkan tambahan berat seberat 20-30 g per hari; (3) bayi tidak mendapatkan pengobatan yang membutuhkan penanganan di rumah sakit, dan (4) tidak terdapat perubahan besar dalam pengobatan atau pemberian oksigen.

Bepergian

Orang tua sebaiknya menggunakan tempat duduk (car seat) khusus bayi sejak pertama kali bepergian, saat membawa anak pulang dari NICU. Kepala atau badan bayi tidak boleh merosot/malas/tidak tegak (slouch) dan sabuk tidak boleh diletakkan di sekitar kepala atau perut bayi. Handuk yang digulung atau popok dapat digunakan untuk mengganjal. Bayi tidak boleh diletakkan di kursi depan kendaraan jika air bag pada sisi penumpang dapat diaktivasi. Bayi harus terlihat oleh orang dewasa, baik secara langsung atau melalui kaca spion. Bayi dengan riwayat penurunan kadar oksigen, henti napas, atau bradikardi (denyut jantung lambat) bila berada dalam keadaan setengah tegak harus diletakkan dalam posisi telentang atau telungkup menggunakan alat pengaman alternatif. Bayi tidak boleh ditinggal sendiri di dalam mobil bahkan untuk waktu yang singkat.

Visite dokter

Bayi harus diperiksa dokter dalam beberapa hari setelah dipulangkan dari NICU. Dokter tersebut harus mengetahui tentang riwayat kehamilan, setelah bayi baru lahir, dan faktor risiko komplikasi. Bayi harus dibawa ke dokter tiap satu atau dua minggu sampai diperoleh kenaikan berat badan yang sesuai dan adanya adaptasi dengan keadaan rumah.

Pemberian makan

Asupan kalori, cairan, dan suplementasi vitamin dan mineral harus diawasi selama kunjungan tiap minggu. Kebutuhan gizi pada saat di NICU biasanya 1200 kkal/kg/hari. Jumlah ini biasanya turun menjadi 100 kkal/kg/hari pada saat pemulangan. Bayi yang diberikan formula dengan kandungan kalori melebihi 24 kkal/ons lebih rentan terhadap dehidrasi. Maka dari itu bayi harus dilihat adanya tanda-tanda dehidrasi dan kadar elektrolit harus diperiksa jika timbul muntah atau diare yang signifikan. Sebagian besar bayi tidak tahan terhadap formula mengandung lebih dari 30 kkal/ons (ASI dan formula standar mengandung sekitar 20 kkal/ons).

ASI melindungi dari infeksi dan bayi yang mendapat ASI memiliki pertumbuhan pada usia 18 bulan yang lebih baik daripada bayi yang mendapat susu formula. Ibu yang berencana menyusui sebaiknya menggunakan pompa payudara setelah bayi lahir untuk merangsang payudara. Susu yang dipompakan dapat diberikan kepada bayi. Apabila bayi mampu mengisap, ibu harus mulai menyusui untuk mendorong produksi susu lebih lanjut. Pada waktu pemulangan dari rumah sakit, sebagian besar bayi prematur membutuhkan pemberian makan paling sedikit tiap tiga jam.

Ibu harus menyusui tiap 1,5-2 jam dalam sehari pada 24-48 jam pertama setelah pulang dari rumah sakit untuk memastikan produksi susu yang cukup. Setelah itu, bayi normalnya disususi tiap 2-3 jam atau 8-10 kali per hari. Enam sampai 8 popok basah per 24 jam menunjukkan asupan cairan yang cukup.

Bila bayi menolak disusui, ibu harus mencoba lagi dalam setengah sampai satu jam. Ibu dapat mendorong bayi untuk menyusu dengan mengeluarkan tetes-tetes susu, mendorong puting atau memposisikan bayi. Pemberian tambahan gizi dengan menggunakan selang saat bayi sedang disusui berguna bagi bayi yang membutuhkan kalori lebih banyak daripada jumlah yang diperoleh selama mendapatkan ASI biasa. Konsultan laktasi dapat membantu mengatasi masalah-masalah dalam menyusui.

Mekanisme menelan pada bayi belum mampu menerima makanan padat sampai 2,5-3,5 bulan setelah tanggal lahir yang seharusnya. Susu sapi idealnya tidak boleh diberikan sampai bayi berusia 12 bulan setelah tanggal lahir yang seharusnya. Bayi kecil menurut masa kehamilan atau bayi sakit dengan catch-up growth harus tetap diberikan ASI atau formula sampai ukuran tubuhnya berada dalam kisaran normal sesuai masa kehamilan. Bayi sakit seringkali membutuhkan intervensi diet khusus.

Vitamin D, E, K, dan asam folat penting terutama untuk bayi berat lahir rendah. Selain vitamin D, biasanya tidak terdapat defisiensi vitamin setelah pemulangan dari NICU. Gejala dan tanda defisiensi vitamin D, tembaga dan seng dapat dilihat pada tabel.


TABEL 1. Gejala dan Tanda Defisiensi Tembaga, Seng, dan Vitamin D pada Bayi
Defisiensi
Kebutuhan pada bayi prematur
Kebutuhan pada bayi cukup bulan
Uji untuk mengkonfirmasi defisiensi
Gejala dan tanda
Tembaga
100 µg per kg per hari
Sampai 6 bulan:
0.4-.6 mg/hari
6-12 bulan:
0.6-0.7 mg/hari 1-2 tahun:
0.7-1.0 mg/hari
Tembaga dalam serum, serum ceruloplasmin
Anemia, neutropenia (kadar neutrosit rendah), depigmentasi kulit dan rambut, kulit menyerupai dermatitis seboroik, anoreksia, diare, kemunduran psikomotor, henti napas, gagal tumbuh
Seng
750 µg per kg per hari
5 mg/hari
Seng plasma
Acrodermatitis enteropathica (dermatitis sekitar lubang pada tubuh dan anggota tubuh), diare, kebotakan, gagal tumbuh, lebih rentan terhadap infeksi
Vitamin D
400 IU per hari
400 IU per hari
Vitamin D dalam serum
Perubahan bentuk tulang iga, tungkai, lutut, gagal tumbuh, kadar kalsium dan fosfat dalam darah rendah

Walaupun defisiensi vitamin jarang terjadi, semua bayi yang diberi ASI sebaiknya diberikan suplementasi vitamin selama satu tahun pertama. Dosis standar vitamin bayi yang memberikan 400 IU vitamin D per hari dianjurkan baik untuk bayi prematur maupun cukup bulan. Jika bayi diberikan formula standar, pemberian vitamin tambahan dianjurkan sampai bayi minum sebanyak 950 ml formula per hari. Jika formula khusus yang diberikan, kandungan vitaminnya harus dicek untuk menentukan apakah diperlukan suplementasi vitamin.

Suplementasi besi dianjurkan, baik dalam bentuk formula dengan fortifikasi besi atau dalam bentuk cair, diberikan dengan dosis 2-4 mg/kg/hari pada bayi yang mendapat ASI atau bayi yang mendapat formula dengan kadar besi rendah. Suplentasi besi sebaiknya dimulai 2 minggu sampai 2 bulan setelah kelahiran dan dilanjutkan selama 12-15 bulan.

Walaupun jarang, defisiensi seng dan tembaga telah dilaporkan pada bayi prematur usia 3-6 bulan. Defisiensi seng terjadi pada bayi yang mendapat ASI dari ibu yang mempunyai suatu defisiensi metabolik yang mencegah keluarnya seng ke dalam ASI. Kebutuhan seng dan tembaga serta gejala dan tanda defisiensi tembaga dan seng dapat dilihat pada tabel.

Pertumbuhan

Selama dua tahun pertama, pertumbuhan dicatat menggunakan usia koreksi untuk prematuritas. Grafik pertumbuhan untuk bayi prematur rata-rata telah didisain khusus. Juga terdapat grafik pertumbuhan khusus bayi baru lahir untuk bayi sakit atau kecil menurut masa kehamilan. Setelah bayi mencapai usia 2 tahun, grafik pertumbuhan standar dapat digunakan.

Banyak bayi prematur yang mengalami catch-up growth. Catch-up growth biasanya pertama kali terlihat pada lingkar kepala bayi, diikuti dengan berat dan panjang badan. Hal ini biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama dan maksimum saat usia 36-40 minggu setelah pembuahan. Hanya sedikit terjadi setelah usia 3 tahun. Bayi prematur dengan retardasi pertumbuhan dalam rahim dan tanpa catch-up growth mempunyai resiko perkembangan tertunda lebih besar dan masalah medis lainnya daripada bayi prematur dengan laju pertumbuhan normal. Bahkan saat remaja, anak-anak yang lahir prematur lebih kecil dibandingkan anak yang tidak lahir prematur. Menarche (menstruasi pertama kali) juga terjadi lebih lambat pada anak yang lahir prematur. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang lahir prematur cenderung melahirkan bayi prematur pula. Penelitian lain juga menemukan kecenderungan yang sama, namun tidak signifikan secara statistik.

Perkembangan

perkembangan bayi selama 2 tahun ini harus di-plot dari perkiraan tanggal lahir bayi yang seharusnya bukan dari tanggal lahir bayi. Kuesioner praskrining perkembangan Denver, uji skrining perkembangan Denver, dan Inventori perkembangan Gesell merupakan uji yang sudah diakui. Skrining perkembangan tidak menggantikan pemeriksaan saraf. Pemeriksaan perkembangan saraf neonatus merupakan salah satu pemeriksaan yang dilakukan dan dapat menilai refleks dan kekuatan otot, saraf otak dan fungsi motorik, respons sensorik dan perilaku. Jika ditemukan kelainan, perlu dipertimbangkan konsultasi dengan ahli perkembangan anak. Dalam rangka mencegah kecacatan dilakukan program intervensi yang mendukung dan meningkatkan interaksi orang tua dan anak, walaupun angka kesuksesan tidak terlalu besar. Program intervensi ini dianjurkan diikuti oleh bayi berat lahir rendah dan orang tuanya.

Tidur

Bayi prematur tidur lebih banyak daripada bayi cukup bulan. Kendati demikian, bayi prematur juga bangun lebih sering dibandingkan bayi cukup bulan. Periode tidur rata-rata bayi prematur lebih singkat daripada bayi cukup bulan. Bayi prematur juga memerlukan waktu beberapa hari atau minggu untuk dapat pindah dari lingkungan NICU ke rumah. Melembutkan musik dan mengurangi terangnya lampu secara bertahap dapat membantu. Bayi tidur telentang karena telah diketahui bahwa posisi telungkup berkaitan dengan meningkatnya resiko terjadinya sudden infant death syndrome (SIDS). Kasur yang terlalu empuk dan permukaan lainnya yang dapat memerangkap udara pernapasan juga berkaitan dengan SIDS dan sebaiknya dihindari.

Penglihatan dan Pendengaran

Strabismus (juling) lebih sering ditemukan pada bayi prematur. Karena juling dapat menjadi tanda kelainan di dalam mata, konsultasi dengan dokter mata umumnya diperlukan. Pada banyak bayi berat lahir sangat rendah, juling pada usia enam minggu menghilang saat mencapai usia 9 bulan. Juling yang timbul saat usia 9 bulan cenderung menetap. The American Academy of Pediatrics, the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, and the American Academy of Ophthalmology menganjurkan melakukan pemeriksaan skrining awal pada usia 4-6 minggu, dengan follow-up tergantung hasil pemeriksaan awal.

Ada beberapa keadaan seperti hiponatremia (kadar natrium dalam darah yang rendah), alkalosis metabolik dan penggunaan ventilator mekanik dalam waktu lama yang merupakan faktor resiko terjadinya ketulian. Penggunaan obat golongan aminoglikosida atau furosemide merupakan faktor resiko tambahan. Definisi tuli menurut badan kesehatan dunia WHO adalah hilangnya pendengaran rata-rata lebih dari 25 dB pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Berdasarkan definisi tersebut, sekitar 5% bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu mengalami ketulian pada usia 5 tahun. Orang tua harus memperhatikan adanya tanda-tanda hilangnya pendengaran pada bayi. Respons bayi terhadap suara keras dapat diperiksa oleh dokter dan kemampuan mengerti dan mengekspresikan bahasa dapat dinilai dengan alat skrining perkembangan. Konsultasi dengan ahli THT dapat dilakukan jika orang tua melihat tanda-tanda hilangnya pendengaran atau jika ditemukan kelainan saat skrining.

(VC)

Sumber : www.aafp.org

0 komentar:

Poskan Komentar