Dari Pada Antri di ATM mending Bayar2 Sambil Santai di HP Pribadi. Lebih Murah dan Dapat Cashback !

Selasa, 01 November 2011

Inkubator Berdampak Pada Psikologis Anak

Bayi yang lahir prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) biasanya akan dimasukkan ke dalam inkubator sebelum dinyatakan cukup sehat untuk dibawa pulang. Namun, penanganan terhadap bayi dengan kebutuhan perawatan khusus ini kelak bisa memengaruhi tumbuh kembang anak. Hal itu terutama pada pertumbuhan otak dan emosi, apalagi inkubator memisahkan kontak fisik dan emosi antara bayi dan orangtuanya.

Orangtua juga perlu mencermati bahwa melakukan perawatan di inkubator dengan banyak cahaya akan berdampak kurang baik bagi bayi. Di antaranya mempengaruhi perkembangan bahasa hingga psikologis.

“Secara psikologis, pencahayaan yang terlalu terang akan membuat anak menjadi mudah marah. Berbeda dengan anak yang lebih tenang dan penuh kasih sayang, sebagai efek stimulasi dari kontak fisik bayi dengan orangtuanya,” papar dr Rinawati Rohsiswatmo, SpA, ahli perinatologi dari FKUI RSCM, Selasa (6/7/2010).

Untuk itu, orangtua perlu mempelajari cara merawat bayi dengan kebutuhan khusus ini tanpa bergantung pada inkubator, yakni dengan mengandalkan sentuhan kulit (skin to skin care) dari orangtuanya. Perawatan ini dikenal sebagai Kangaroo Care (lihat metode kanguru, inkubator alami).

Selain itu, dr Rina menjelaskan bahwa suhu tubuh orangtua bayi atau orang dewasa lebih memberikan kehangatan alami. Jika inkubator memiliki batas aman suhu sekitar 34 derajat celsius, maka tubuh ayah-ibu bisa lebih hangat dari itu. Dengan bantuan perawat atau tenaga medis, orangtua bisa mempelajari metode inkubator alami ini.

Kangaroo Care, kata dr Rina, berasal dari negara miskin Bogota, Kolombia. Karena sulit dan mahalnya perawatan dengan inkubator, Kangaroo Care dipraktikkan dan ternyata memberikan hasil optimal dan dikembangkan di banyak negara maju.

“Bayi yang membutuhkan perawatan lebih khusus, bayi kecil atau bayi lahir prematur, bukan berarti tidak sehat. Bisa jadi bayi itu sehat hanya saja butuh dirawat lebih khusus. Namun, tidak usah terlalu lama di rumah sakit, apalagi dengan bantuan inkubator,” ucap dokter yang mendapatkan penghargaan dokter teladan se-Kalimantan Timur 1990 ini.

Cara lain (sebagai penghangat atau inkubator) yang dianggap tak perlu adalah menggunakan lampu atau botol panas.

Kangaroo Care memang ilmu baru di Indonesia. Namun sejumlah tenaga medis dan rumah sakit sudah mendapatkan pelatihan perawatan ini. Ia menyebutkan, RS Harapan Kita dan RS Budhi Asih adalah beberapa yang sudah memberikan pelatihan tersebut.

“Keberhasilan Kangaroo Care berada di tangan para dokter dan perawat, bagaimana meyakinkan ibu bayi untuk menjalani perawatan ini. Fungsi rumah sakit juga harus diubah, yakni lebih mencerdaskan orangtua,” tandas dr Rina.

(kompas.com)

0 komentar:

Posting Komentar